Tragedi Anak SD di NTT: Cermin Kegagalan Sistem Pendidikan?

Kasus anak SD di Ngada, NTT, memantik kritik bahwa sistem pendidikan belum berpihak pada kelompok rentan dan akar kemiskinan struktural….

Tragedi Anak SD di NTT: Cermin Kegagalan Sistem Pendidikan?

Tragedi Anak SD di NTT: Cermin Kegagalan Sistem Pendidikan?

wowresumetemplates.com — Tragedi yang menimpa seorang anak Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), memantulkan sorotan tajam terhadap sistem pendidikan nasional. Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, menilai peristiwa ini sebagai bukti bahwa kebijakan pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat kecil atau kelompok yang paling rentan.

Kegagalan Negara dalam Penjaminan Hak Dasar

Politikus dari PDI Perjuangan ini menyatakan, kasus di NTT tersebut secara jelas mencerminkan kegagapan negara dalam menjamin hak dasar anak, yaitu hak atas pendidikan dan kehidupan yang layak. Menurutnya, ketika kebutuhan paling mendasar seperti buku tulis dan alat tulis pena bisa menjadi penghalang bagi kelangsungan hidup seorang anak, maka persoalan yang dihadapi telah melampaui sekadar kekurangan ekonomi semata.

“Ini adalah bentuk kemiskinan struktural,” tegas Selly. Ia menegaskan bahwa kemiskinan tidak hanya dipahami sebagai keterbatasan finansial, tetapi juga sebagai kondisi yang meruntuhkan martabat, menggerogoti kesehatan mental, dan melemahkan sistem perlindungan sosial, khususnya bagi perempuan dan anak-anak.

Panggilan untuk Pendidikan yang Inklusif dan Bermartabat

Berdasarkan hasil Rapat Kerja Nasional I PDIP 2026, partainya disebut terus mendorong pemerintah untuk serius memerangi kemiskinan ekstrem. Upaya yang didorong termasuk memperkuat program perlindungan sosial yang menyentuh akar persoalan dan memastikan pemenuhan hak dasar rakyat berjalan secara nyata, bukan hanya sekadar terpenuhi di atas kertas administratif.

Oleh karena itu, dunia pendidikan harus dipastikan benar-benar inklusif, bermartabat, dan terbebas dari segala bentuk beban yang justru menyingkirkan anak-anak dari keluarga kurang mampu dari harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Fungsi Kontrol dan Momentum Evaluasi

PDI Perjuangan menegaskan posisinya sebagai partai yang menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan secara kritis terhadap kebijakan pemerintah. Tragedi di Ngada ini, ditegaskan Selly, harus menjadi momentum evaluasi yang serius bagi negara, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Evaluasi ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kasus serupa, sehingga tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan masa depannya, apalagi nyawanya, akibat jerat kemiskinan dan kelalaian sistem yang seharusnya melindungi mereka.