Anak-anak dan Kecanduan Gadget: Lonjakan Rabun Jauh yang Mengkhawatirkan
Data terbaru mengungkap 1 dari 3 anak di dunia alami rabun jauh. Gadget dan kurang aktivitas luar jadi pemicu utama. Simak analisis dan pencegahannya….
Anak-anak dan Kecanduan Gadget: Lonjakan Rabun Jauh yang Mengkhawatirkan
wowresumetemplates.com — Seorang anak bernama Winata (10) duduk sendirian di teras rumahnya. Bahunya sedikit membungkuk, sementara jari-jemarinya sibuk memainkan ujung rambutnya yang ikal. Sesekali ia mendorong kacamatanya agar tidak melorot dari hidung. Di depannya, anak-anak lain berlarian dan tertawa lepas di halaman, tanpa satu pun yang mengenakan kacamata seperti dirinya.
“Aku malu pakai kacamata mulu,” ucap Winata dalam sebuah percakapan. Ia kerap merasa berbeda. Saat teman-temannya bermain bebas, Winata harus berhati-hati dalam setiap gerakan, khawatir kacamatanya jatuh atau rusak.
Dari Gadget ke Kacamata Tebal
Ayah Winata, Mardiansah, masih ingat jelas awal mula masalah ini. Saat duduk di kelas satu SD, putrinya mulai kesulitan melihat tulisan di papan tulis. Gurunya memanggil orang tuanya setelah memperhatikan Winata sering memicingkan mata.
Hasil pemeriksaan mengejutkan: mata kiri minus 10, mata kanan silinder 1,5. Dokter menyarankan penggunaan kacamata segera. Penyebabnya bukan faktor keturunan, melainkan kebiasaan bermain ponsel orang tua secara berlebihan selama dua tahun sebelum masuk sekolah.
“Sekarang sudah tidak kita izinkan main HP lama-lama. Paling nonton YouTube sebentar, habis itu rehat,” kata Mardiansah yang kini menyesali kelalaiannya.
Fenomena Global: 1 dari 3 Anak Mengalaminya
Winata bukan kasus tunggal. Data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) menyebutkan 3,6 juta anak Indonesia mengalami kelainan refraksi, dengan tiga dari empat anak tidak mendapatkan koreksi kacamata yang memadai.
Namun, rabun jauh atau miopia kini telah menjadi masalah global. Sebuah analisis besar dalam British Journal of Ophthalmology yang mencakup 5,4 juta anak dan remaja dari 50 negara menemukan fakta mencengangkan: sekitar satu dari tiga anak dan remaja di dunia mengalami miopia.
Trennya terus meningkat tajam. Pada periode 1990–2000, prevalensi miopia berada di kisaran 24 persen. Angka ini naik menjadi 30 persen pada 2011–2019, dan melonjak lagi menjadi 36 persen pada 2020–2023. Jika berlanjut, jumlah kasus global diperkirakan akan melampaui 740 juta pada 2050.
Perempuan Lebih Rentan dan Dampak Pandemi
Analisis tersebut juga mengungkap bahwa anak perempuan dan perempuan muda lebih rentan mengalami miopia dibandingkan laki-laki. Proyeksi menunjukkan prevalensi pada perempuan bisa mencapai 42 persen pada 2050.
Para peneliti juga menyoroti pandemi Covid-19 sebagai faktor yang diduga mempercepat lonjakan kasus setelah 2020. Pembatasan aktivitas luar ruang dan meningkatnya waktu menatap layar selama pandemi berpotensi memperburuk kesehatan mata anak dan remaja.
Rabun Jauh Datang Lebih Dini
Pola gangguan penglihatan pada anak menunjukkan perubahan mengkhawatirkan. Ketua Perdami Cabang DKI Jakarta, Julie Dewi Barliana, menyebut mata minus kini muncul jauh lebih dini, bahkan sejak usia balita.
“Karena anak-anak sekarang sudah mulai terpapar gadget, televisi, atau layar apa pun sejak dini,” ujarnya. Namun, gadget bukan satu-satunya penyebab. Minimnya aktivitas di luar ruangan dan kurang paparan sinar matahari juga berperan besar.
Data skrining Perdami memperkuat temuan ini. Sekitar 40,5 persen siswa SD di Jakarta mengalami rabun jauh, dan angka ini melonjak tajam di jenjang SMP hingga menembus lebih dari 50 persen.
Bukti di Lapisan Masyarakat
Di Optik Arsyad Sawangan, Depok, lonjakan ini terasa nyata. Pemiliknya, Sayid Ahmad, menyaksikan peningkatan jumlah anak yang memeriksakan mata setiap tahun. Dari pengalamannya sebagai ahli optik keliling di Jabodetabek, ia melihat anak-anak usia sekolah dasar mendominasi pasien dengan keluhan penglihatan.
Pengalaman paling membekas adalah saat memeriksa seorang siswa SMP dengan kondisi mata kanan minus 20 dan kiri minus 19,5. “Dia hampir buta,” ucap Sayid. Penyebabnya adalah kebiasaan bermain gim di rental PlayStation berjam-jam sejak SD.
Sayid menyimpulkan, mata minus pada anak kini jarang berdiri sendiri sebagai faktor genetik. Kebiasaan bermain gadget, laptop, dan komputer dalam durasi panjang tanpa jeda menjadi pemicu utama.
Dampak yang Melampaui Penglihatan
Gangguan penglihatan pada anak tidak hanya sekadar soal ketajaman visual. Ketua Departemen Informasi dan Edukasi Masyarakat Perdami, Kianti Raisa Darusman, mengungkapkan dampaknya bisa meluas ke masalah emosional, perilaku, hingga perkembangan mental.
Sebanyak 70 persen anak dengan gangguan penglihatan menunjukkan indikasi masalah pada aspek emosional. Selain itu, 50 persen berisiko mengalami gangguan perilaku, dan 27 persen menunjukkan gejala hiperaktivitas.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, anak usia dini dengan gangguan penglihatan berat berisiko mengalami keterlambatan perkembangan motorik, bahasa, emosional, sosial, dan kognitif. Pada usia sekolah, hal ini sering berujung pada prestasi akademik yang lebih rendah.
Pencegahan dan Penanganan
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa mata minus sebenarnya bisa dicegah sejak dini. Kuncinya terletak pada pola hidup sehat dan kebiasaan visual yang benar.
“Istirahatkan mata setiap 20 menit. Alihkan pandangan untuk melihat objek jauh sekitar 20 kaki atau enam meter selama 20 detik, serta kurangi penggunaan gadget yang tidak perlu,” ujar Nadia.
Nutrisi juga berperan penting. Asupan sayuran kaya vitamin A, C, E, serta Omega 3 dapat membantu menjaga kesehatan mata. Kebiasaan membaca atau menatap layar terlalu dekat, apalagi sambil tiduran, harus dihindari.
Bagi yang sudah terlanjur mengalami mata minus, penglihatan tetap dapat dikoreksi dengan prosedur seperti operasi Lasik. Namun, Nadia menekankan bahwa pencegahan tetap jauh lebih baik, terutama bagi anak-anak yang penglihatannya masih terus berkembang.
Lonjakan rabun jauh pada anak adalah alarm bagi orang tua dan masyarakat. Mengatur waktu penggunaan gadget, mendorong aktivitas luar ruang, dan melakukan pemeriksaan mata rutin adalah langkah-langkah krusial untuk melindungi masa depan penglihatan generasi muda.
